Sering waktu, ruang, kepentingan

Menguji sebuah hubungan.

Aku mengenalmu kawan, sedari dulu

Tidak beruntung kawan, kita bertumbuh di waktu,

Ruang, dan kepentingan yang saling bersilang.

Aku tahu kau sangat takut gelap kawan

Mungkin hanya itu hal terdalam dirimu yang aku tahu.

Aku merasa tak harus minta maaf kawan

Karena hidup sudah berjalan seperti seharusnya.

“sahabat sejati selalu muncul kembali”

itu yang pernah kau katakan, dan aku bilang

“sahabat sejati itu tak pernah ada, sahabat sejati itu tidak tunggal!

Sahabat sejati itu tersebar di masing-masing diri teman-teman terdekat kita menjadi serpihan-serpihan yang saling melengkapi.

“Tak adil kawan memberi nomor pada teman”

seperti kuda pacuan untuk dilombakan.

Kau teman no.1ku, kau teman no.2ku,

Dan kau teman peringkat 3 ku.

Tidaklah seperti itu…

Semua sahabat indah

Lengkap diterima dalam satu paket,baik lemah dan lebihnya.

Yang tersisa lalu disebut terdekat.

Terseleksi oleh kecocokan yang sangat wajar dan

faktor Lain yang kadang disengaja, kadang alami saja alias tidak sengaja.

Ya, aku sayang

Hanya jika kau percaya

Ya, aku peduli

Hanya jika kau menyambut.

Kau tahu bahwa aku selalu mengikuti langkahmu,

Dari kejauhan saja memang..

Aku sudah tanggalkan kepalsuan kawan!

Menciptakan ketulusan saja dalam persahabatan

Berbicara tentang kebenaran dan terus belajar menyayangi lebih banyak lagi.

Hati kawan..

Hati…

Segenggam daging yang jika rusak, rusaklah semua badan kawan…

Mari kita jejaki kembali kawan,

Langkah yang dulu sempat terputus.

Mari kawan hati-hati,

aku akan selalu menjagamu

Esok masih panjang kawan,

Mari melangkah…

Mari…

Comments No Comments »

Aku dan kamu berbaring-baring santai di sebuah sofa panjang

yang kita jajar berhadap-hadapan, nyaman sekali.

Aku menopang kepalaku dengan tangan kanan,

menghadap ke wajahmu yang bersandar santai di ganjal sebuah bantal.

Ceritapun mengalir..

“Kamu tau gak alasan aku mutusin Dia?”

“Dia gak bisa kompromi!”

berhenti disitu, lalu aku mengernyitkan dahi mengingat sesuatu.

Aha!

Aku baca entah dimana, yang mengatakan bahwa

“Hidup adalah Kompromi”

“Cinta adalah Kompromi”

Namun sejauh pembicaraan antar kami, aku belum pernah

benar-benar memahami apa maksud pernyataan tersebut, sampai kemudian…

“Bisa gak kamu ngebayangi, jika sepasang manusia lawan jenis

memutuskan untuk hidup bersama slamanya, lalu ketika usia datang,

kejenuhan melanda dan kadar cinta serta gairah tidak lagi meluap-luap

ketika masih muda. Bisakah hubungan tersebut terus berjalan?”

“Cinta saja tidak cukup!”

“Hidup itu kompromi, Cinta itu kompromi!”.

Di satu titik kesadaranku terhenyak

Ya!

Aku dapat sesuatu.

Akupun tersadar untuk menggeser sedikit sudut pandangku

yang sangat “Cinta-isme”.

“Bisa gak sih, kamu bayangin menghabiskan waktu dengan orang yang gak bisa kompromi?”

“Ingin menang sendiri, mungkin karena terlalu cintanya”

“Iya kalo cinta itu masih bertahan, masih cukup kadarnya,

tapi kalo tidak, bukankah akan tercerai-berai ketika

yang satu memaksakan kehendak pada yang lain.

Dan ketika yang lain sudah bosan mengalah….”

“Lalu apa yang tersisa kecuali cinta yang hampa,

cinta yang tak mengenal kompromi..”

“terkadang kita hanya butuh “teman” untuk berbagi.

Teman untuk mengarungi dan menghabiskan hidup bersama.

Teman untuk berbagi, memecahkan masalah bersama,

teman yang bisa berkompromi ketika gairah

dan cinta di masa tua sudah menemukan titik jenuhnya”.

“Itu yang disebut teman hidup”

“Karena cinta tidak egois, cinta itu kompromi!”

“Dan cinta saja tak pernah cukup”.

Berapi-api dirimu menyampaikan hal itu,

penuh semangat sekali tampaknya.

“mmmmhhh…..”ku menarik nafas, tanda bahwa aku sudah lepas dari tegangku.

Sekarang pikiranku menerawang,

bertebaran dalam kilasan-kilasan momen tentang kedalaman diriku sendiri.

Tentang percintaanku dengan seorang laki-laki.

Ada kesetujuanku tentang pernyataanmu barusan,

namun urungku sampaikan padamu secara langsung.

Kau memang berbeda dengan yang lain…sedari dulu…

Akupun berpiknik dalam khayalanku tentang masa depan

yang selalu menjadi misteri. Bahwa ternyata aku menemukan

bahwa cintaku saja tidak selalu cukup,

bahwa cintaku saja tidak selalu laku untuk menjadi alat tukar

mendapatkan apa saja yang aku inginkan,

lalu aku menemukan satu simpulan kecil yang berusaha aku kuatkan ;

Bahwa selama aku masih bisa kompromi, berarti cintaku akan dapat terus bertahan?? Sistem kompromi yang bergantian.Agar satu pihak tak tertekan.

Mungkin itu…

“seringkali hal yang sangat bermanfaat tak didapat disekolah, ataupun bangku kuliah. Tapi pembicaraan sederhana berdasarkan pengalaman pahit-manis seseorang justru memberi petunjuk praktis manual kehidupan”. University of Life”.

Comments No Comments »

God, I feel like hell tonight

Tears of rage I cannot fight

I d be the last to help you understand

Are you strong enough to be my man?

Nothing s true and nothing s right

So let me be alone tonight

Cause you can t change the way I am

Are you strong enough to be my man?

Lie to me

I promise I ll believe

Lie to me

But please don t leave

I have a face I cannot show

I make the rules up as I go

It s try and love me if you can

Are you strong enough to be my man?

When I ve shown you that I just don t care

When I m throwing punches in the air

When I m broken down and I can t stand

Will you be strong enough to be my man?

Lie to me

I promise I ll believe

Lie to me

But please don t leave

Please Listen : download.php?file=847525&song=Strong+Enough

God! I hate my self! if over and over again i hurt someone feeling, i break someone dreams!

So let me be alone sometimes,

Cause you can t change the way I am

cause i create my own world

i just do what i wanna do..

keeping play around like a lil’girl playing

never can say “don’t!” in someone love,

just love me

if r u strong enough.

mari kita tertawa renyah dan berjalan bergandengan, dan lalu pula

kita berpelukan karena aku membutuhkanmu..

aku yang tertawa, sangat mneyenangkan, menghibur lalu tiba-tiba bisa berubah menjadi semangkuk sup yang tumpah di meja makan kita??

bukankah aku sangat merepotkan sayang?

seorang wanita hampir 24 tahun yg sangat suka bermain, bermain apa saja.

seorang wanita yg bajunya penuh berlepotan cat.

wanita gembel yang suka rusuh.

kebesaran Tuhan, bahwa aku diciptakan dengan kecerobohan yg lebih, juga dengan kemampuan mencintai yang juga lebih.

entah dimananya..

Write : ketika kita menjalani sebuah kisah dari cinta yang mulia. tak bisa lepas pula segala keunikan diri manusia yang berusaha untuk dikompromikan disana. YA, hidup itu KOMPROMI! Aku hanya ingin menjalani ini secara natural..tidak terburu-buru seperti dikejar bandar judi. Sabar…itu yang selalu aku katakan. Tak baik mengumbar-umbar janji bahwa aku akan setia dan lain sebagainya. Sabar…itu yang selalu aku katakan.

Comments No Comments »

Ada yang baru dikamarku

Sebuah korden berwarna pink

Yang kudapat dari temanku

ya..pink…baru kali ini

warna yang selalu kutolak selama ini

tapi setelah kulihat-lihat lucu juga

korden pink itu selalu berkibar-kibar

setiap kali kipas anginku meniup padanya

duh..sexy sekali.

seperti penutup dikamar pengantin baru…

## Buat seseorang yang selama ini membuat kamarku bak pengantin baru, namun sekarang kamu sudah tak ada dan kamarku sudah bertransformasi menjadi kamar “janda” baru. :-) miz u

Comments 1 Comment »

Lyndalflowergirl_1
Sebut saja namanya “Bunga”…

Yang sedang sendiri karena mencari angin. Nama lengkapnya
aku kurang tahu, entah bunga melati, bunga kamboja, bunga bakung, bunga
bangkai, atau bunga mawar. Aku tidak pernah benar-benar merasa mengenalnya.

Dulu warnanya ungu kebiru-biruan, sama seperti warna
favoritnya.

Kini, tidak lagi. Kemarin terakhir bertemu warnanya
kecoklatan.

Sama seperti warna favoritku.

Katanya ia sudah berpisah dari kekasihnya terdahulu.

Namun, aku tak pernah dikasihnya tahu.

Dan katanya lagi “aku ingin mencari kebebasan!”

“Kebebasan yang terenggut dariku sudah terlalu lama”

Dan benar saja, sekarang aku sering melihatnya “terbang”
kesana-kemari.

Seperti burung yang tak lagi dirangkap sangkar.

Seperti burung yang tak lagi punya rumah untuk pulang.

 

 Sebut saja namanya
“Bunga”

Yang sekarang lebih sering nongkrong dan tertawa lepas
sekenanya.

Katanya

 “Aku hanya ingin melakukan apa yang seharusnya
aku lakukan sejak dulu, akh aku bosan dibuntuti!”.
Itu katanya.

Masa hidup kami sudah hampir habis,

Karena kami secara bersamaan menderita penyakit yang
sangat akut, sehingga

Membuat
kepala sering senut-senut.

Aku
memilih beri’tikaf, sedangkan ia memilih menggoreskan kenangan
sebanyak-banyaknya.

Tertawa sebanyak-banyaknya, dan bercengkrama sebanyak-banyaknya.

Indah sekali, namun….

 

 Sebut
saja namanya “Bunga”

Yang terakhir aku bertemu tak sesegar dulu.

Bukan masalah visual, namun rasa.

Bahwa kali ini matanya tidak berbohong.

Bahwa mungkin ia sendiri tidak menyadari

Aku bertanya padanya “Lalu kebebasan seperti apa yang kau
dambakan?”

Ia menatapku dengan penuh selidik, tidak suka.

Lalu, kamipun berhenti berteman…

 

 Sebut
saja namanya “Bunga”

Yang belakangan kuintip tampak malang nasibnya

Kosong pula, tampak matanya.

Berlari riang dengan baju cerah berwarna jingga

Seperti kanak-kanak yang kembali kemasa bebas
pertimbangan.

Beriang ria dalam semu yang nge-blur karena embun di
fajar tiba.

Sedih kurasa kala kutatap dalam matanya

Karena tebak, yang kutemukan warna yang agak kepucatan.

Dia pikir dia hebat, merayakan kebebasan belenggu

Dengan euforia yang agak ganjil dalam cara.

Menjadi gila dengan bernyanyi Emo padahal cinta Dangdut.

Berjingkrak-jingkrak makan Seafood padahal alergi udang.

 

 Sebut saja namanya
“Bunga”

Yang mulai berani nakal karena hilang akal.

Yang mulai ikut-ikutan dikala ikut-ikutan tidak lagi
diperlukan.

Yang terlambat binal karena dulu punya pacar.

“Bunga, auramu redup” ,itu yang aku katakan.

Namun, karena Bunga tak mengerti masalah aura, ia berlalu
saja.

“Aku nggak ngerti yang gitu-gitu, bicara tu yang logis
sajalah!”

Lalu, ia semakin lupa berbicara dengan hati.

Semakin sering menganggap banyak hal baginya “tidak
penting”

Aku manusia setengah iblis-setengah filsuf masih saja
bisa terluka,

Dan
menatapnya dalam diam,

Hampir selalu seperti itu sekarang ini.

Namun satu hal yang ingin kubunuh namun tak pernah bisa
mati ialah,

Bahwa
aku menyayanginya. Ya, aku menyayanginya.

 

 Sebut saja namanya “Bunga”

Yang tak pernah tahu bahwa aku mendalam padanya

Yang tak pernah tahu bahwa ia sangat kudamba

Ia memiliki beberapa sahabat, dan aku rasa mereka bisa
menjaganya.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

“Bunga, jangan sampai kau hilang akal…jangan sampai lupa
makna kebebasan, jangan sampai “aneh” karena tak tahu aturan, jangan sampai
menyedihkan karena terlihat kacau….”

Ya, kamu terlihat kacau…itu saja.

Dan mungkin karena itu jugalah kamu terlihat menyedihkan.

Maafkan aku karena jujur.

Maafkan aku juga tak membantu apa-apa

Karena aku sudah terlalu jauh, bahkan untuk mengendus
aromamu

(karena memang kau tak pernah memakai parfum)

Aku hanya gengsi,

Bersikap diam tapi mengumpulkan,

Tak peduli tapi masih saja siap kapanpun.

Takut datang tanpa undangan, itukan tidak sopan.

 

 

Aku selalu percaya wahai Bunga,

Bahwa sahabat selain berfungsi sebagai aspek mutual juga
berfungsi multi sebagai

“Kaca”, yang dalam bahasa romantis sering juga disebut
dengan “Cermin”

Betapa atas kisah laramu yang kau anggap berkah aku
mematut diri.

Mematut muka, jangan-jangan aku memiliki kisah yang sama,

Jangan-jangan aku memungut untung ditengah keruh yang kau
landa.

Dan patut saja untuk kau ketahui bahwa,

Mungkin
bawaan umur (ha..ha..ha..anggap saja aku sok tua! ;-)

Aku sudah urung untuk memikirkan ha-ha-hi-hi khas anak
muda

Ataupun
berkoloni khas asas konsensus yang sangat

Indonesia

Aku
mulai menelusuri kembali sejumlah kisah yang telah pernah aku buat.

Ada kamu juga didalamnya, tapi aku hampir yakin bahwa itu
“tidak penting” bagimu.

Secara kata sejarah aku masih keturunan seorang ahli
dakwah kaya raya dari tanah Bugis, bernama “Nadjahi Hatta Bacharuddin
El-Maccoalloe” ( yang ini keterangan tdk penting)

maka aku mencoba menyesuaikan diri dengan
“berkontemplasi”.

Agar tidak dikira terlalu “kurang ajar” dari pakem
leluhur.

Dari situlah bermula kesadaranku untuk menelaah diriku,
dirimu, dan diri-diri yang lain untuk menemukan suatu akomodasi yang baik untuk
dipahami.

Aku agak galau belakangan ini karena terlalu banyak
membaca buku-buku nasehat hidup

(aku tahu kamu tak pernah suka buku-buku semacam ini)

Dan memang karena aku tidak suka dan tidak terbiasa  jika aku tidak galau, maka semua ini
terjadilah.

Aku menemukan suatu kesimpulan dari cerminanku dari
dirimu

Tentang “Acomodador”.

”Acomodador atau titik menyerah ;

Pasti ada suatu
titik (kejadian) dalam hidup kita

Yang membuat kita
menjadi seorang pengecut dan menghalangi untuk membuat kemajuan dalam hidup
kita. Baik itu kekalahan dalam hidup, rasa sakit hati, kemalangan asmara, ataupun
suatu kemenangan yang tidak bisa kita pahami.

Jika kita ingin
sembuh, kita harus melalui fase dimana kita memulai untuk kembali menelusuri
dan meneliti setiap detail dalam hidup kita dan menemukan dimana titik
akomodador tersebut terjadi”

 

Baiklah, kira-kira seperti itu, dan aku ingin
melanjutkan kembali perjalananku yang masih sangat panjang untuk mengais-ngais
sejumlah petunjuk yang masih belum tertata di luar sana.

Kadang aku capek juga melihat semakin banyak orang yang

 “mati
semasa ia hidup”

Nah, agar kamu agak rileks

 

Sekarang mari kita bernyanyi,

Tanpa tendensi, agar hilang sedih hati

Sebuah lagu sederhana, nyaman, dan gak neko-neko.

Sebuah
lagu dimasa kecil,

yang baru  kuhapalkan liriknya di rumah seorang teman
ketika aku tiba-tiba teringat padamu…

Mari
kita bernyanyi….

 

 

To
lead a better life

I
need my love to be here

Here,
making each day of the years

Changing
my life with the wave of her hair

No
body can deny that there’s something there

There,

Running
my hands through her hair

Love
is the first thinking I could it can be

Someone
is speaking, but she doesn’t know his
there

I
want her everywhere

and
if she beside me I know i need never care

But
to love her is to need her everywhere

Knowing
that love is to share

Each
one believin’ that love never die

Watching
her eyes and hoping I always there

I
want her everywhere

 

I
will be there and everywhere

Here,
there and everywhere

 

 “Da
Beatles”

  Here, There, and
Everywhere

Comments No Comments »

Aku Berjalan..ya aku berjalan lagi…
melompat
Naik
Berjalan
Dan berjalan lagi..
Lebih banyak berjalan
Banyak melompatBer
Banyak berjalan
Dan berjalan lagi
Berjalan…berjalan..
Berkeringat, dan tersenyum lagi..
Berjalan…ya berjalan lagi..
Detik kelima kau hadir, detik ketujuh kau hilang lagi
Kadang datang kadang hilang lagi
Trapp…trap….aku melompat-lompat lagi, aku berinjit dan mengendap lagi.
Nyengir, berkeringat, dan aku melompat lagi..
Kadang wajahmu hadir di langit-langit bis itu, kadang tidak lagi
Aku berjalan, ya berjalan lagi
Lebih banyak keringat, lebih banyak bernafas, dan lebih banyak memanjat lagi
Memanjat lagi ya aku memanjat lagi
Trapp..trap…begitu bunyinya.
Lebih banyak memanjat dan kalap lagi.
Meng-inchi jalan yang tak pernah punya ujung
Aku berjalan lagi……
Ya, aku berjalan lagi……

Comments No Comments »

- Jula-Juli Lollypop -Lollypop

 

 

“Jangkrik ngerik wayah bengi

Ngamuk dikileni Yu Painah

                Malangkerik kaya Untung Suropati

Atine wedi diseneni nyonyah

Dadi perupa aja meh golek sugihe

Ngemut permen rasa lollypop

Perupane ngamen senine bobrok

Saiki dulur jamane seni rupa kontemporer

Wong dodol lukisan laris kaya dodol
permen

Nek mbiyen lukisan sing mburu kolektor

Saiki dadi barang dagangan golekane
kolekdol

Nek gelem gampang dadi sugih mergo
lukisan

Nuruta ae apa jarene pasar

Mula akeh pelukis blereng mripate

Terus nuruti pasar apa pesenane

Inspirasine mati solidaritas lali

Seni kontemporer mek kaya mut-mutan legi

Sing dituju mek piro rupiyah dollare

Seni rupane lali nggambar rakyat sing apes
nasibe.

Kancaku, dulur seorang pelukis

Dheke kepengen karyane laris

Mula nggambare sing manis-manis

Kaya permen rasane kinyis-kinyis

Sing dipikir dudu obyekke

Pokoke nggambar asal akeh dhuwike

Mula mripate mek nyawang piro rupiyahe

Dadine gambar mek nyenengke kolekdole……”

 

 

 

“Shindunata”

Wong Liyan 2008

 

 

Berikut
versi trejemahannya, semoga “cucok” dengan Jawanya.

JULA-JULI LOLLYPOP

Jangkrik ngerik di malam hari

Marah dininiabobokkan Yu Painah

Berkacak pinggang bak Untung Suropati

Hatinya takut dimarahi Nyonya

Jadi perupa jangan hanya mencari materi

Mengulum permen rasa Lollypop

Perupanya ngamen seninya bobrok

Sekarang saudara, jamannya seni rupa kontemporer

Orang jualan lukisan laris seperti jualan permen

Jika dulu lukisan yang mburu kolektor

Sekarang jadi barang dagangan yang dicari “Kolekdol”

Kalo mau gampang jadi kayak arena lukisan

Nurut aja apa kata pasar

Makanya banyak pelukis silau matanya

Terus nuruti pasar apa pesenannya

Inspirasinya mati solidaritasnya lupa

Seni kontemporer hanya seperti gul-gula manis

Yang dituju hanya berapa Rupiah dollarnya

Seni rupanya lupa menggambar rakyat yang

malang

nasibnya

Sahabat, saudaraku seorang pelukis

Ia ingin karyanya laris

Makanya nggambarnya yang manis-manis

Seperti permen rasanya “kinyis-kinyis”

Yang dipikir bukan lagi obyeknya

Pokoknya nggambar yang penting banyak uangnya

Makanya matanya hanya melihat berapa rupiahnya

Jadinya gambar hanya untuk menyenangkan “Kolekdole…”

 

 

“Shindunata”

Wong
Liyan 2008

 

 

 

Lollypop_kids

16 Maret 2008

 

 

Sebut saja minggu ini
adalah minggu wisata seni terheboh buat aku. Tidak seperti minggu-minggu biasa,
minggu ini minggu paling padat dimana aku dalam satu waktu berurutan mengunjungi
berbagai event seni yang memang selalu membuat aku ketagihan. Entah pergi
sendiri atau sama orang lain, yang penting enjoy!.

 

### Setelah tgl.15 kemaren hadir
pada pembukaan pameran seni rupa di Jogja Gallery (dibuka oleh Cak Nun dengan
prolog yang sangat menarik, dengan sebaris kata closing

“Jangan berhenti berputar lho,
nanti kehilangan komedi…”) ya tema seni rupa kali ini adalah“KOMEDI PUTAR” yang
bertutur tentang bagaimana dunia memang tetap harus bergulir seperti pakem yang
sudah tertulis atau sudah ter”maktub!”. Pesta artworks yang merespon
diadakannya perayaan Sekaten atau pasar malam yang menjadi agenda tahunan Kota
Ngayogyakarta Hadiningrat.Dunia terus berputar dan perubahan tak lagi dapat
dicegah, sepertihalnya komedi putar yang takkan lagi penuh “tawa” (komedi),
jika ia berhenti berputar…

 

 

###  malamnya langsung “terbang” ke
Jogja Nasional Museum buat “mencak-mencak” ala Hip-Hop party yang dibawakan
oleh anak-anak muda Hip-Hop Foundation Jogja. Yang menarik dari acara ini
ialah, POETRY BATTLE! Dimana sejumlah seleb “setengah nyeniman” membawakan
puisi disela-sela perayaan Hip-Hop party dan Grafitti yang disuguhkan dan
dibuat secara live. Seleb-seleb seperti Iwa K, Garin Nugroho, Hanung Bramantyo,
Rieke Dyah Pitaloka, Mbak Happy “ending” Salma dan “Si Tante” Ria Irawan
bergiliran membacakan puisinya. Akupun girang, lalu pulang.

 

 

 

### O,iya sebelum hang out di Hip-Hop Party, aku dan salah seorang
sahabatku bermata sipit mengunjungi KINOKI, “Bukan Bioskop Bukan Coffeeshop”.
Yang sekarang udah ganti rumah tetanggaan dengan “Whatever Distro” di

kota

baru. Menghadiri
undangan screening yang diperuntukkan untukku. Film “Ke_luar” yang diproduksi
tahun lalu akhirnya masuk nominasi di SIEFEST’07 (aku mengirimkannya untuk
mengikuti festival film di komunitas film Surabaya INFIS). Dan diroadshow dari

Surabaya

, sejumlah

kota

di Pulau
Jawa sampai ke

Bali

, Pulau Dewata. So nice
ketemu temen-temen lama. Cipika-cipiki pula sama Mbak Ellida yang makin rame
aja Tatonya.

 

 

 

### Dan hari ini giliran Bentara Budaya yang sudah menunggu antrian untuk
disinggahi. “Wong Liyan” itu kata yang terpampang di spanduk depan pintu
pameran. Tanda bahwa itulah tema yang diusung pameran seni rupa kali ini.
Sejumlah karya seni yang berusaha mengejawantahkan satu tema dari berbagai
sudut pandang yang sangat frontal jauh berbeda. Pengkerucutan tema terletak
pada barisan kalimat

”bagaimana kita bisa saling menghargai perbedaan!” itu kira-kira.
Bagaimana tiap orang adalah “berbeda” bahkan bagian dari kita adalah “orang
lain” (dalam bahasa Jawa; Wong liya/liyan). Yang kadang saling bertikai dengan
diri kita sendiri. Sepasang suami-istri bisa jadi demikian. Dimana sang istri
memandang sang suami sebagai “Wong liya” atau orang lain yang mana ia masih
merasa punya hak untuk memiliki privacy atau rahasia-rahasia tertentu yang
menjadi bagian dari kehidupannya yang suaminya tak harus tahu. Karena ia masih
beranggapan bahwa suami juga masih orang lain.

Atau seorang wanita yang terperangkap dalam tubuh pria dan merasa asing
oleh “kelelakiannya” sendiri. Merasa bahwa “kelelakiannya” itu adalah “Wong
Liya”. Dan sering saling bertengkar tentang kebenaran dirinya. Namun sesekali
ia menikmati juga “kelelakiannya” tersebut jika malam yang dingin tiba. Kita
dan dunia asing yang kita anggap “orang lain” yang punya jarak imajiner dengan
kita.

 

 

 

### Pameran seni rupa kali in secara kontekstual menjadi bahan perenungan
yang mendalam. Tiap perupa punya cara untuk menyampaikan pikirannya dengan cara
yang sangat menakjubkan dan tak terduga-duga. Dari mulai penggambaran “Phallus”
(symbol maskulinitas), Transgender, Kaum Minor, Industrialis&kapitalis

kota

yang bersinggungan
dengan dunia tradisional, dan masih banyak lagi. Bahkan ironi terhadap lepasnya
jiwa para perupa dari solidaritas “hidup untk seni” (yang belakangan
bermetamorfosa menjadi “Seni untuk Hidup”) menjadi representasi pula dari tema
“Wong Liya” yang diusung kali ini.

 

### Shindunata (Kurrator) punya cara tersendiri dalam proses apresiasi
sejumlah karya yang lahir dengan tema kali ini. Dengan apik, cantik, sekaligus
cermat berbaris-baris kolom

puisi-langgam-keprosa’prosaanpun mengalir bercerita tentang satu sama
lain. Dan akupun bermodal bullpen dan kertas menyalinnya dengan tak tahu malu.
Meskipun tidak utuh, namun cukup representative.


Semoga bisa dinikmati………

 

 

 

 

 

Note1 : “Kolekdol” = di-Koleksi nggo di_Dol! (dikoleksi untuk dijual)

Note2 : Bagi yang berminat nemenin “Tante” buat wisata seni, silahkan
reservasi. Wassalam!

 

 

 

 

 

Comments No Comments »

17_eyes_47770

 

APAKAH sebenarnya yang dilihat oleh seorang
pecinta pada tubuh kekasihnya saat mereka bercinta? Pandangan atas tubuh yang
dihasrati, entah berselubung ataupun telanjang, adalah suatu persepsi akan
bentuk. Tubuh itu adalah bentuk yang hadir, seperti setiap bentuk lainnya di
dunia ini.

Namun, sesungguhnya bukanlah bentuk
yang ia lihat, melainkan suatu kehadiran,
kehadiran dari seorang manusia
dari jenis yang lain yang membuatnya merasa menyeluruh. Sebuah pelukan penuh
hasrat pada tubuh itu segera mengubah kehadiran menjadi seonggok materi yang
memadati ruang yang terbentuk dalam jangkauan lengan.

perlahan persepsi atas materi berubah menjadi
pelukan kehadiran, manakala disadari bahwa setiap fragmen ruang tubuh itu dari
mata, bibir, payudara, sampai pada vulvanya mengacu pada suatu tubuh sebagai
suatu keutuhan yang menyeluruh dan keseluruhan yang utuh. Tubuh pun berhenti
sebagai bentuk. Batas-batas geometrisnya raib ketika tubuh itu tersebar oleh
isapan hasrat keduanya. Dalam denyut gairah yang memuncak, tubuh yang satu
lumat ke dalam tubuh yang lain dan memulihkan diri menjadi samudra sensasi.

 

 

Note : Ada sebuah
riset yang menyebutkan bahwa ketika laki-laki dan perempuan
"Telanjang" bersama (maaf) maka prosentase otak (logika) hanya
maksimal 30% bagi wanita dan 50 % bagi laki-laki. Dan Wanita yang telanjang
dihadapan pria tidak lagi merujuk pada sexy atau tidak, gemuk ato tidak, atau
putih atau tidak. Melainkan fungsi "Kehadiran" dimana rasa cinta dan
hadirnya sosok tubuh lawan jenis menjadi faktor stimulus utama.
Laki-laki dengan "anu gedhe" juga sudah tidak lagi penting, ketika
wanita dan laki-laki bersama, maka yang bermain adalah "RASA" bukan
lagi
"UKURAN DAN VISUAL".

Buat para sahabat yang masih saja takut akan bentuk tubuhnya . Malu karena
tidak memiliki tubuh sexy ataupun minder karena merasa berdada
"kecil". Berkutat pada cita-cita besar untuk melangsingkan diri hanya
karena citra "cantik" yang masih saja sangat relatif. Demikian juga
para lelaki yang sibuk kasak-kusuk sama Mak Erot (ha..ha..) tidak usahlah,
karena cinta adalah masalah "Kehadiran" bukan lagi
"Bentuk"…

Comments 1 Comment »

Publication1

Comments 1 Comment »

Into_harmony_01
Seperti
yang ditulis Dante dalam The Divine Comedy.’ Pada waktu orang membolehkan cinta
sejati muncul. Hal-hal yang tadinya teratur menjadi berantakkan dan
menjungkirbalikkan semua yang tadinya kita kira benar dan betul. Dunia akan
menjadi suatu kenyataan saat orang belajar mengenai arti cinta, tapi kita
selalu tak punya keberanian untuk menghadapi arti cinta yang sebenarnya.

Cinta
adalah kekuatan yang takkan pernah ditundukkan. Kalau kita berusaha
mengendalikannya, cinta akan menghancurkan kita. Kalau kita mencoba memahaminya
, cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan.

(Coelho,
Paulo. The Zahir, 125)

 

 

 

 

Comments 2 Comments »