
Sebut saja namanya “Bunga”…
Yang sedang sendiri karena mencari angin. Nama lengkapnya
aku kurang tahu, entah bunga melati, bunga kamboja, bunga bakung, bunga
bangkai, atau bunga mawar. Aku tidak pernah benar-benar merasa mengenalnya.
Dulu warnanya ungu kebiru-biruan, sama seperti warna
favoritnya.
Kini, tidak lagi. Kemarin terakhir bertemu warnanya
kecoklatan.
Sama seperti warna favoritku.
Katanya ia sudah berpisah dari kekasihnya terdahulu.
Namun, aku tak pernah dikasihnya tahu.
Dan katanya lagi “aku ingin mencari kebebasan!”
“Kebebasan yang terenggut dariku sudah terlalu lama”
Dan benar saja, sekarang aku sering melihatnya “terbang”
kesana-kemari.
Seperti burung yang tak lagi dirangkap sangkar.
Seperti burung yang tak lagi punya rumah untuk pulang.
Sebut saja namanya
“Bunga”
Yang sekarang lebih sering nongkrong dan tertawa lepas
sekenanya.
Katanya
“Aku hanya ingin melakukan apa yang seharusnya
aku lakukan sejak dulu, akh aku bosan dibuntuti!”. Itu katanya.
Masa hidup kami sudah hampir habis,
Karena kami secara bersamaan menderita penyakit yang
sangat akut, sehingga
Membuat
kepala sering senut-senut.
Aku
memilih beri’tikaf, sedangkan ia memilih menggoreskan kenangan
sebanyak-banyaknya.
Tertawa sebanyak-banyaknya, dan bercengkrama sebanyak-banyaknya.
Indah sekali, namun….
Sebut
saja namanya “Bunga”
Yang terakhir aku bertemu tak sesegar dulu.
Bukan masalah visual, namun rasa.
Bahwa kali ini matanya tidak berbohong.
Bahwa mungkin ia sendiri tidak menyadari
Aku bertanya padanya “Lalu kebebasan seperti apa yang kau
dambakan?”
Ia menatapku dengan penuh selidik, tidak suka.
Lalu, kamipun berhenti berteman…
Sebut
saja namanya “Bunga”
Yang belakangan kuintip tampak malang nasibnya
Kosong pula, tampak matanya.
Berlari riang dengan baju cerah berwarna jingga
Seperti kanak-kanak yang kembali kemasa bebas
pertimbangan.
Beriang ria dalam semu yang nge-blur karena embun di
fajar tiba.
Sedih kurasa kala kutatap dalam matanya
Karena tebak, yang kutemukan warna yang agak kepucatan.
Dia pikir dia hebat, merayakan kebebasan belenggu
Dengan euforia yang agak ganjil dalam cara.
Menjadi gila dengan bernyanyi Emo padahal cinta Dangdut.
Berjingkrak-jingkrak makan Seafood padahal alergi udang.
Sebut saja namanya
“Bunga”
Yang mulai berani nakal karena hilang akal.
Yang mulai ikut-ikutan dikala ikut-ikutan tidak lagi
diperlukan.
Yang terlambat binal karena dulu punya pacar.
“Bunga, auramu redup” ,itu yang aku katakan.
Namun, karena Bunga tak mengerti masalah aura, ia berlalu
saja.
“Aku nggak ngerti yang gitu-gitu, bicara tu yang logis
sajalah!”
Lalu, ia semakin lupa berbicara dengan hati.
Semakin sering menganggap banyak hal baginya “tidak
penting”
Aku manusia setengah iblis-setengah filsuf masih saja
bisa terluka,
Dan
menatapnya dalam diam,
Hampir selalu seperti itu sekarang ini.
Namun satu hal yang ingin kubunuh namun tak pernah bisa
mati ialah,
Bahwa
aku menyayanginya. Ya, aku menyayanginya.
Sebut saja namanya “Bunga”
Yang tak pernah tahu bahwa aku mendalam padanya
Yang tak pernah tahu bahwa ia sangat kudamba
Ia memiliki beberapa sahabat, dan aku rasa mereka bisa
menjaganya.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
“Bunga, jangan sampai kau hilang akal…jangan sampai lupa
makna kebebasan, jangan sampai “aneh” karena tak tahu aturan, jangan sampai
menyedihkan karena terlihat kacau….”
Ya, kamu terlihat kacau…itu saja.
Dan mungkin karena itu jugalah kamu terlihat menyedihkan.
Maafkan aku karena jujur.
Maafkan aku juga tak membantu apa-apa
Karena aku sudah terlalu jauh, bahkan untuk mengendus
aromamu
(karena memang kau tak pernah memakai parfum)
Aku hanya gengsi,
Bersikap diam tapi mengumpulkan,
Tak peduli tapi masih saja siap kapanpun.
Takut datang tanpa undangan, itukan tidak sopan.
Aku selalu percaya wahai Bunga,
Bahwa sahabat selain berfungsi sebagai aspek mutual juga
berfungsi multi sebagai
“Kaca”, yang dalam bahasa romantis sering juga disebut
dengan “Cermin”
Betapa atas kisah laramu yang kau anggap berkah aku
mematut diri.
Mematut muka, jangan-jangan aku memiliki kisah yang sama,
Jangan-jangan aku memungut untung ditengah keruh yang kau
landa.
Dan patut saja untuk kau ketahui bahwa,
Mungkin
bawaan umur (ha..ha..ha..anggap saja aku sok tua!
Aku sudah urung untuk memikirkan ha-ha-hi-hi khas anak
muda
Ataupun
berkoloni khas asas konsensus yang sangat
Indonesia
Aku
mulai menelusuri kembali sejumlah kisah yang telah pernah aku buat.
Ada kamu juga didalamnya, tapi aku hampir yakin bahwa itu
“tidak penting” bagimu.
Secara kata sejarah aku masih keturunan seorang ahli
dakwah kaya raya dari tanah Bugis, bernama “Nadjahi Hatta Bacharuddin
El-Maccoalloe” ( yang ini keterangan tdk penting)
maka aku mencoba menyesuaikan diri dengan
“berkontemplasi”.
Agar tidak dikira terlalu “kurang ajar” dari pakem
leluhur.
Dari situlah bermula kesadaranku untuk menelaah diriku,
dirimu, dan diri-diri yang lain untuk menemukan suatu akomodasi yang baik untuk
dipahami.
Aku agak galau belakangan ini karena terlalu banyak
membaca buku-buku nasehat hidup
(aku tahu kamu tak pernah suka buku-buku semacam ini)
Dan memang karena aku tidak suka dan tidak terbiasa jika aku tidak galau, maka semua ini
terjadilah.
Aku menemukan suatu kesimpulan dari cerminanku dari
dirimu
Tentang “Acomodador”.
”Acomodador atau titik menyerah ;
Pasti ada suatu
titik (kejadian) dalam hidup kita
Yang membuat kita
menjadi seorang pengecut dan menghalangi untuk membuat kemajuan dalam hidup
kita. Baik itu kekalahan dalam hidup, rasa sakit hati, kemalangan asmara, ataupun
suatu kemenangan yang tidak bisa kita pahami.
Jika kita ingin
sembuh, kita harus melalui fase dimana kita memulai untuk kembali menelusuri
dan meneliti setiap detail dalam hidup kita dan menemukan dimana titik
akomodador tersebut terjadi”
Baiklah, kira-kira seperti itu, dan aku ingin
melanjutkan kembali perjalananku yang masih sangat panjang untuk mengais-ngais
sejumlah petunjuk yang masih belum tertata di luar sana.
Kadang aku capek juga melihat semakin banyak orang yang
“mati
semasa ia hidup”
Nah, agar kamu agak rileks
Sekarang mari kita bernyanyi,
Tanpa tendensi, agar hilang sedih hati
Sebuah lagu sederhana, nyaman, dan gak neko-neko.
Sebuah
lagu dimasa kecil,
yang baru kuhapalkan liriknya di rumah seorang teman
ketika aku tiba-tiba teringat padamu…
Mari
kita bernyanyi….
To
lead a better life
I
need my love to be here
Here,
making each day of the years
Changing
my life with the wave of her hair
No
body can deny that there’s something there
There,
Running
my hands through her hair
Love
is the first thinking I could it can be
Someone
is speaking, but she doesn’t know his
there
I
want her everywhere
and
if she beside me I know i need never care
But
to love her is to need her everywhere
Knowing
that love is to share
Each
one believin’ that love never die
Watching
her eyes and hoping I always there
I
want her everywhere
I
will be there and everywhere
Here,
there and everywhere
“Da
Beatles”
Here, There, and
Everywhere